Showing posts with label hemodialisa. Show all posts
Showing posts with label hemodialisa. Show all posts

Sunday, July 3, 2011

Askep Hemodialisa

Definisi
Dialisis adalah difusi partikel larut dari satu kompartemen cairan ke kompartemen lain melewati membran semipermeabel. Dialisa adalah proses pembuangan limbah metabolik dan kelebihan cairan dari tubuh. Pada Hemodialisis, darah adalah salah satu kompartemen dan dialisat adalah bagian yang lain. Membran semipermeabel adalah lembar tipis, berpori-pori terbuat dari selulosa atau bahan sintetik. Ukuran pori-pori membran memungkinkan difusi zat dengan berat molekul rendah seperti urea, kreatinin, dan asam urat berdifusi. Molekul air juga sangat kecil dan bergerak bebas melalui membran, tetapi kebanyakan protein plasma, bakteri, dan sel-sel darah terlalu besar untuk melewati pori-pori membran. Perbedaan konsentrasi zat pada dua kompartemen disebut gradien konsentrasi.

Fungsi Sistem ginjal buatan
1.Membuang produk metabolisme protein seperti urea, kreatinin, dan asam urat.
2.Membuang kelebihan air dengan mempengaruhi tekanan banding antara darah dan bagian cairan, biasanya terdiri atas tekanan positif dalam arus darah dan tekanan negatif (penghisap) dalam kompartemen dialisat (proses ultrafiltrasi).
3. Mempertahankan dan mengembalikan system buffer tubuh.
4. Mempertahankan atau mengembalikan kadar elektrolit tubuh.

Ada 2 metode dialisa, yaitu hemodialisa dan dialisa peritoneal.
pada hemodialisa, darah dikeluarkan dari tubuh penderita dan dipompa ke dalam mesin yang akan menyaring zat-zat racun keluar dari darah dan kemudian darah yang sudah bersih dikembalikan lagi ke dalam tubuh penderita. jumlah total cairan yang dikembalikan dapat disesuaikan. Pada dialisa peritoneal, cairan yang mengandung campuran gula dan garam khusus dimasukkan ke dalam rongga perut dan akan menyerap zat-zat racun dari jaringan. cairan tersebut kemudian dikeluarkan lagi dan dibuang.

Indikasi
1. Pasien yang memerlukan hemodialisa adalah pasien GGK dan GGA untuk sementara sampai fungsi ginjalnya pulih.
2. Pasien-pasien tersebut dinyatakan memerlukan hemodialisa apabila terdapat indikasi:
a. Hiperkalemia
b. Asidosis
c. Kegagalan terapi konservatif
d. Kadar ureum / kreatinin tinggi dalam darah
e. Kelebihan cairan
f. Mual dan muntah hebat

Peralatan
a. Dialiser atau Ginjal Buatan
Komponen ini terdiri dari membran dialiser yang memisahkan kompartemen darah dan dialisat. Dialiser bervariasi dalam ukuran, struktur fisik dan tipe membran yang digunakan untuk membentuk kompartemen darah. Semua factor ini menentukan potensi efisiensi dialiser, yang mengacu pada kemampuannya untuk membuang air (ultrafiltrasi) dan produk-produk sisa (klirens).
b. Dialisat atau Cairan dialysis
Dialisat atau “bath” adalah cairan yang terdiri atas air dan elektrolit utama dari serum normal. Dialisat ini dibuat dalam system bersih dengan air keran dan bahan kimia disaring. Bukan merupakan system yang steril, karena bakteri terlalu besar untuk melewati membran dan potensial terjadinya infeksi pada pasien minimal. Karena bakteri dari produk sampingan dapat menyebabkan reaksi pirogenik, khususnya pada membran permeable yang besar, air untuk dialisat harus aman secara bakteriologis. Konsentrat dialisat biasanya disediakan oleh pabrik komersial. Bath standar umumnya digunakan pada unit kronis, namun dapat dibuat variasinya untuk memenuhi kebutuhan pasien tertentu.
c. Sistem Pemberian Dialisat
Unit pemberian tunggal memberikan dialisat untuk satu pasien: system pemberian multiple dapat memasok sedikitnya untuk 20 unit pasien. Pada kedua system, suatu alat pembagian proporsi otomatis dan alat pengukur serta pemantau menjamin dengan tepat kontrol rasio konsentrat-air.
d. Asesori Peralatan
Piranti keras yang digunakan pada kebanyakan system dialysis meliputi pompa darah, pompa infus untuk pemberian heparin, alat monitor untuk pendeteksi suhu tubuh bila terjadi ketidakamanan, konsentrasi dialisat, perubahan tekanan, udara, dan kebocoran darah.
e. Komponen manusia
f. Pengkajian dan penatalaksanaan

PROSEDUR HEMODIALISA
Setelah pengkajian pradialisis, mengembangkan tujuan dan memeriksa keamanan peralatan, perawat sudah siap untuk memulai hemodialisis. Akses ke system sirkulasi dicapai melalui salah satu dari beberapa pilihan: fistula atau tandur arteriovenosa (AV) atau kateter hemodialisis dua lumen. Dua jarum berlubang besar (diameter 15 atau 16) dibutuhkan untuk mengkanulasi fistula atau tandur AV. Kateter dua lumen yang dipasang baik pada vena subklavikula, jugularis interna, atau femoralis, harus dibuka dalam kondisi aseptic sesuai dengan kebijakan institusi.
Jika akses vaskuler telah ditetapkan, darah mulai mengalir, dibantu oleh pompa darah. Bagian dari sirkuit disposibel sebelum dialiser diperuntukkan sebagai aliran “arterial”, keduanya untuk membedakan darah yang masuk ke dalamnya sebagai darah yang belum mencapai dialiser dan dalam acuan untuk meletakkan jarum: jarum “arterial” diletakkan paling dekat dengan anastomosis AV pada vistula atau tandur untuk memaksimalkan aliran darah. Kantong cairan normal salin yang di klep selalu disambungkan ke sirkuit tepat sebelum pompa darah. Pada kejadian hipotensi, darah yang mengalir dari pasien dapat diklem sementara cairan normal salin yang diklem dibuka dan memungkinkan dengan cepat menginfus untuk memperbaiki tekanan darah. Tranfusi darah dan plasma ekspander juga dapat disambungkan ke sirkuit pada keadaan ini dan dibiarkan untuk menetes, dibantu dengan pompa darah. Infus heparin dapat diletakkan baik sebelum atau sesudah pompa darah, tergantung peralatan yang digunakan.
Dialiser adalah komponen penting selanjutnya dari sirkuit. Darah mengalir ke dalam kompartemen darah dari dialiser, tempat terjadinya pertukaran cairan dan zat sisa. Darah yang meninggalkan dialiser melewati detector udara dan foam yang mengklem dan menghentikan pompa darah bila terdeteksi adanya udara. Pada kondisi seperti ini, setiap obat-obat yang akan diberikan pada dialysis diberikan melalui port obat-obatan. Penting untuk diingat, bagaimanapun bahwa kebanyakan obat-obatan ditunda pemberiannya sampai dialysis selesai kecuali memang diperintahkan.
Darah yang telah melewati dialysis kembali ke pasien melalui “venosa” atau selang postdialiser. Setelah waktu tindakan yang diresepkan, dialysis diakhiri dengan mengklem darah dari pasien, membuka selang aliran normal salin, dan membilas sirkuit untuk mengembalikan darah pasien. Selang dan dialiser dibuang kedalam perangkat akut, meskipun program dialisis kronik sering membeli peralatan untuk membersihkan dan menggunakan ulang dialiser.

Tindakan kewaspadaan umum harus diikuti dengan teliti sepanjang tindakan dialysis karena pemajanan terhadap darah. Masker pelindung wajah dan sarung tangan wajib untuk digunakan oleh perawat yang melakukan hemodialisis.

Pedoman Pelaksanaan Hemodialisa
1. Perawatan sebelum hemodialisa
a. Sambungkan selang air dengan mesin hemodialisa
b. Kran air dibuka
c. Pastikan selang pembuang air dan mesin hemodialisis sudah masuk kelubang atau saluran pembuangan
d. Sambungkan kabel mesin hemodialisis ke stop kontak
e. Hidupkan mesin
f. Pastikan mesin pada posisi rinse selama 20 menit
g. Matikan mesin hemodialisis
h. Masukkan selang dialisat ke dalam jaringan dialisat pekat
i. Sambungkan slang dialisat dengan konektor yang ada pada mesin hemodialisis
j. Hidupkan mesin dengan posisi normal (siap)
2. Menyiapkan sirkulasi darah
a. Bukalah alat-alat dialysis dari set nya
b. Tempatkan dializer pada tempatnya dan posisi “inset” (tanda merah) diatas dan posisi “outset” (tanda biru) di bawah.
c. Hubungkan ujung merah dari ABL dengan ujung “inset”dari dializer.
d. Hubungkan ujung biru dari UBL dengan ujung “out set” dari dializer dan tempatkan buble tap di holder dengan posisi tengah..
e. Set infus ke botol NaCl 0,9% - 500 cc
f. Hubungkan set infus ke slang arteri
g. Bukalah klem NaCl 0,9%, isi slang arteri sampai ke ujung slang lalu diklem.
h. Memutarkan letak dializer dengan posisi “inset” di bawah dan “out set” di atas, tujuannya agar dializer bebas dari udara.
i. Tutup klem dari slang untuk tekanan arteri, vena, heparin
j. Buka klem dari infus set ABL, VBL
k. Jalankan pompa darah dengan kecepatan mula-mula 100 ml/menit, kemudian naikkan secara bertahap sampai dengan 200 ml/menit.
l. Isi bable-trap dengan NaCl 0,9% sampai ¾ cairan
m. Berikan tekanan secara intermiten pada VBL untuk mengalirkan udara dari dalam dializer, dilakukan sampai dengan dializer bebas udara (tekanan lebih dari 200 mmHg).
n. Lakukan pembilasan dan pencucian dengan NaCl 0,9% sebanyak 500 cc yang terdapat pada botol (kalf) sisanya ditampung pada gelas ukur.
o. Ganti kalf NaCl 0,9% yang kosong dengan kalf NaCl 0,9% baru
p. Sambungkan ujung biru VBL dengan ujung merah ABL dengan menggunakan konektor.
q. Hidupkan pompa darah selama 10 menit. Untuk dializer baru 15-20 menit untuk dializer reuse dengan aliran 200-250 ml/menit.
r. Kembalikan posisi dializer ke posisi semula di mana “inlet” di atas dan “outlet” di bawah.
s. Hubungkan sirkulasi darah dengan sirkulasi dialisat selama 5-10 menit, siap untuk dihubungkan dengan pasien soaking.
3. Persiapan pasien
a. Menimbang berat badan
b. Mengatur posisi pasien
c. Observasi keadaan umum
d. Observasi tanda-tanda vital
e. Melakukan kamulasi/fungsi untuk menghubungkan sirkulasi, biasanya mempergunakan salah satu jalan darah/blood akses seperti di bawah ini:
1. Dengan interval A-V shunt / fistula simino
2. Dengan external A-V shunt / schungula
3. Tanpa 1 – 2 (vena pulmonalis)

Intrepretasi Hasil
Hasil dari tindakan dialysis harus diintrepretasikan dengan mengkaji jumlah cairan yang dibuang dan koreksi gangguan elektrolit dan asam basa. Darah yang diambil segera setelah dialysis dapat menunjukkan kadar elektrolit, nitrogen urea, dan kreatinin rendah palsu. Proses penyeimbangan berlangsung terus menerus setelah dialysis, sejalan perpindahan zat dari dalam sel ke plasma.

Komplikasi
1. Ketidakseimbangan cairan
a. Hipervolemia
b. Ultrafiltrasi
c. Rangkaian Ultrafiltrasi (Diafiltrasi)
d. Hipovolemia
e. Hipotensi
f. Hipertensi
g. Sindrom disequilibrium dialysis
2. Ketidakseimbangan Elektrolit
a. Natrium serum
b. Kalium
c. Bikarbonat
d. Kalsium
e. Fosfor
f. Magnesium
3. Infeksi
Diagnosa Keperawatan yang muncul pada klien yang menjalani hemodialisa:
a. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kelemahan proses pengaturan
b. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang familier dengan sumber informasi.
c. Ketidakberdayaan berhubungan dengan perasaan kurang kontrol, ketergantungan pada dialysis, sifat kronis penyakit
d. Risiko cedera berhubungan dengan akses vaskuler dan komplikasi sekunder terhadap penusukan

Daftar Pustaka

1. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, National Institutes of Health. Available at:
http://kidney.niddk.nih.gov/kudiseases/pubs/kidneyfailure/index.htm.Date Accessed: August 28, 2005.
2. Hemodialisa. Medicastore Informasi. Available at: http://www.medicastore.com/. Date Accessed: August 28, 2005.
3. Hemodialysis. Available at: http://www.kidney.ca/english/profile.htm. Date Accessed: August 28, 2005.
4. Chronic Renal Failure. Health all refer. Available at: http://health.allrefer.com/health/chronic-renal-failure-info.html. Date accessed: August 14, 2005.
5. Smeltzer & Barre. Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarrth. EGC. Jakarta, 2002.
6. Suyono S. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid II. Edisi ketiga. Balai Penerbit FK UI. Jakarta, 2001.
7. NANDA. Nursing diagnoses: definition & classification 2001-2002. nanda. Philadelphia, 2001.
8. NIC & NOC. Nursing diagnosis: A guide to planning care. Fifth edition. Down load from : www1.us.elsevierhealth.com

Wednesday, February 16, 2011

PRINSIP DASAR HEMODIALISA

Prinsip Dasar Hemodialisa
Definisi
Hemodialisi adalah suatu proses dimana komposisi dolut darah diubah oleh larutan lain melalui membrane semi permeable

Prinsip Hemodialisis
Dialysis menghilangkan nitrogen dan produk limbah lainnya, mengoreksi elektrolot, air, dari gangguankeseombangan asam basa yang berhubungan dengan gagal ginjal. Dialysis tidak mengoreksi kelainan endokrin pada gagal ginjal atau mencegah komplikasi kardiovaskuler. [roses ini memerlukan penggunaan membrane semipermeable yang memungkinkan air dan zat terlarut dengan berat molekul rendah melaluinya, sedangkan zat terlarut dengan berat molekul besar (misalnya protein) tidak dapat melaluinya, ( BM urea:60, kreatinin: 113, vit B12: 1355, albumin: 60000, IgG: 140000). Membrane dialysis yang pertama kali di gunakan terbuat dari bahan selulose, seiring waktu bahan sintetis semakin banyak digunakan.

Gambar 1. 1a Difusi, osmosis, dan ultrafiltrasi osmotic oleh tekanan osmotic,
b. ultrafiltrasi hidrostatik. D= difusi, O= Osmosis, OU= Ultrafiltarsi osmotic,
UF= Ultrafiltrasi oleh tekanan hidrostatik, C= Konveksi

Dialisis
Proses ini mengacu pada difusi dari zat terlarut melalui mebran semipermeable berdasarkan gradient kosentrasi. Laju difusi terbesar pada gradient konsentrasi terbesar, ini adalah mekanisme utama untuk membuang urea dan kreatinin, dan untuk penambahan serum bicarbonate. Difusi sebanding dengan suhu larytan (meningkatkan garakan molekoul secara acak) dan berbanding, terbalik dengan viskositas dan ukuran molekul yang dibuang,(molekul besar akan terdifusi dengan lambat). Dengan meningkatkan aliran darah yang melalui dialiser akan meningkatkan klirens dari zat terlarut dengan berat molekul rendah(urea,krestinin) dengan mempertahankan gradient konsentrasi yang tinggi. Karakteristik membrane juga dapat menentukan tingkat difusi. Membrane high flux tipis dan memiliki pori-pori yang besar sehingga mempunyai tahanan yang rendah untuk difusi. Zat terlarut yang terikat protein tidak dapat dibuang melalui difusi karena protein yang terikat tidak dapat menembus membran. Hanya zat terlarut yang tidak terikat protein yang dapat menembus membrane/terdialisa.

Ultrafiltrasi
Ultrafiltrasi adalah aliran konvektiv (air dan zat terlarut) yang terjadi akibat adanya tekanan hidrostatik maupun tekanan osmotic. Air dan zat terlarut dengan berat molekul berat molekul kecil dapat dengan mudah melalui membrane semipermeable, sedangkan zat terlarut dengan berat molekul besar tidak akan melalui mebran semipermeable. Hemodialisis terjadi sebagai akibat dari tekanan negative yang terbentuk dalam kompartemen dialisat yang dihasilkan oleh pompa dialisat (TMP/transmembrane pressure). Nilai UF tergantung pada perbedaan/gradient tekanan. Membran dialiser dtbedakan berdasarkan permeabilitasnya terhadap air dan zat terlarut dan dibedakan menjadi mebran low flux dan high flux. Permeabilitas membrane diukur dengan koefisien ultrafiltrasi dengan satuan ml/jam/mmHg dengan range antara 2-50.

Prinsip hemodialisis dalam praktek
Secara sederhana mesin hemodialisis bekerja memompa darah dan dialisat melalui dialiser.
a. Dialisat adalah cairan yang terdiri dari air yang telah dimurnikan, natrium, kalium, magnesium, kalsium, klorida, dextrose dan bikarbonat atau asetat.
b. Darah dialisat dalam dialiser terpisah oleh membrane semipermeable. Karena dialisat tidak mengandung bahan sisa metabolisme ( urea, kreatinin dll) akan menyebabkan terjadinya difusi dari darah ke dialisat.
c. Difusi dapat dimaksimalkan dengan mempertahankan kecepatan aliran darah yang tinggi dari darah dan dialisat dan dengan mengalirkan kedua cairan ini (darah dan dialisat) secara berlawanan arah (countercurrent flow).
d. Klirens konvektiv dapat ditambahkan dengan membuat TMP dalam dialiser. Pada CRRT prosesnya mengandalkan pada mekanisme konveksi untuk mengeluarkan zat terlarut dan sering tanpa memakai dialisat sama sekali. Pada HD konvensional molekul dangan BM rendah tidak dikeluarkan secara konveksi tapi hamper seluruhnya secara difusi. Sebaliknya molekul dengan BM tinggi (β2 microglobulin, vit B12,) dikeluarkan lebih efektif dengan konveksi daripada difusi. Hal ini menyebabkan meningkatnya penggunaan metode UF pada HD untuk meningkatkan pengeluaran molekul dengan BM yang lebih tinggi (hemodiafiltrasi atau high volume hemofiltrasi).
Sebuah mesin HD dibuat lebih kompleks dengan penambahan beberapa alat pengaman, pump controller, monitor tekanan dan aliran, detector kebocoran udara, monitor tekanan darah pasien, kemampuan mengubah komposisi dialisat dan semakin canggih dapat memantau kimia darah, aliran akses pembuluh darah dan memberikan dosis dialysis dan menyediakan data untuk remote controllers dan database.

Faktor-faktor yang mempengaruhi klirens pada hemodialisis
Klirens adalah ukuran jumlah aliran darah yang bisa dibersihkan dari suatu zat terlarut, diukur dalam satuan ml/menit.
Dialisis akan mengurangi konsentrasi dari zat-zat sisa metabolisme yang terlarut selama darah melalui mesin dialysis (mis: klirens urea 100 ml/menit diukur dari besar penurunan konsentrasi urea darah, laju aliran darah).

Aliran darah
Laju aliran darah biasanya berkisar antara 200 ml/menit - 500 ml/menit. Peningkatan laju aliran darah akan meningkatkan klirens dari zat terlarut. Namun peningkatan ini tidak proporsional terhadap peningkatan laju aliran darah seperti yang terjadi apabila kita meningkatkan laju aliran darah akan menurunkan efisiensi difusi. Secara umum, peningkatan 100% laji aliran darah hanya meningkatkan klirens urea sebesar 20%-50% aengan sedikit efek terhadap molekul dengan BM yang lebih besar.


Aliran dialisat
Laju aliran dialisat biasanya sekitar 500 ml/menit. Peningkatan laju aliran dialisat akan meningkatkan klirens tetapi hanya sedikit (peningkatan dari 500 ml/menit ke 800 ml/menit akan meningkatkan klirens urea tidak lebih dari 10%). Peningkatan klirens yang dicapai dalam prakteknya sedikit lebih besar daibanding yang diperkirakan/dicapai secara in vitro.

Klirens dialysis dan mass transfer area coefficient ( KoA)
Ketebalan membrane, ukuran pori-pori dan arsitektur dialiser akan mempengaruhi klirens zat terlarut. Efisiensi dari klirens zat terlarut diukur dengan KoA yang sudah dibuat oleh masing-masing produsen dialiser. Hampir sama dialiser memiliki KoA antara 300ml/menit – 500ml/menit, dapat bertambah samapai dengan >700ml/menit untuk dialiser dengan efisiensi tinggi.
Efisiensi dialiser diukur berdasarkan Klirens dengan nilai Qb dan Qd yang sudah ditentukan. Umumnya nilai ini di ukur untuk urea dan zat terlarut lain pada Qb 200ml/menit dan Qd 500ml/menit. Parameter lain yang digunakan untuk mengukur efisiensi dialiser adalah pengeluaran cairan dengan istilah koefisien ultrafiltrasi (Kuf).
Namun demikian efisiensi dialiser lebih akurat jika di ukur menggunakan KoA. KoA suatu zat terlarut didefinisikan sebagai: Kemampuan maksimal dari membrane untuk memungkinkan terjadinya transfer zat terlarut melalui pori-pori mebran pada Qb dan Qd yang tidak terbatas. Dengan demikian KoA adalah Klirens dari zat terlarut dimana dialisat dan laju aliran darah bukan merupakan suatu factor pembatas.
Senakin tinggi nilai KoA semakin permeable membrane tersebut terhadap zat terlarut. Jumalah zat terlarut yang dapat dibersihkan juga tergantung dari luas permukaan mebran dialiser. Bertambanhya luas permukaan membrane akan sebanding dengan banyaknya zat terlarut yang dapat dibersihkan. Namun jika luas permukaan terlalu besar perbandingan ini tidak berjalan secara linier.

Berat molekul zat terlarut
Molekul-molekul yang besar berdifusi secara perlahan sehingga akan mengurangi klirensnya.peningkatan laju aliran darah hanya berefek sedikit terhadap klirens molekul yang besar dtbanding molekul kecil.


Waktu
Lama sesi dialysis adalah satu-satunya factor terpenting yang menentukan Klirens suatu zat terlarut. Perubahan pada pada parameter lain hamper selalu menyebabkan pengurangan waktudialisi pasin. Klirens dari zat terlarut dangan BM kecil pada short dialisis dapat dipertahankan dengan menggunakan membrane high flux, aliran darah yang tinggi dll, hasil jangka panjangnya masih belum jelas, terutama bila control volume ekstraseluler tidak adekuat (hipertensi yang persisten) dan klirens molekul dengan BM besar tidak dipertahankan.

MEMULAI DIALISIS DENGAN KATETER DOUBLE LUMEN

MEMULAI DIALISIS DENGAN KATETER DOUBLE LUMEN

PENGERTIAN : Akses sirkulasi yang di pasang secara temporer pada vena jugularis
dan subclavia terdiri dari dua lumen untuk menghubungkan sirkulasi
darah (sirkulasi ekstraporeal) dengan tubuh (sirkulasi sistemik)
TUJUAN : - Untuk melancarkan proses hemodialisa
- Mencegah terjadinya infeksi
- Mencegah adanya bekuan diselang kateter double lumen
PROSEDUR
1. Persiapan alat dan obat
- Set steril berisi : 1 buah duk steril, 2 buah kom kecil untuk tempat
NaCL 0.9%, 10 lembar kain kasa steril, 1 buah klem arteri untuk
desinfektan
- Spuit 3 cc
- Spuit 1 cc berisi heparin dosis awal (bolus)
- NaCL 0.9%
- Bethadine solution
- Sarung tangan steril 2 buah
- Hypavix
- Gunting verband
- Masker
- Apron/celemek
- Bak penampung cairan (matkan)
- Tempat sampah medis dan non medis
- Over bed table
- Perlak/pengalas
- Bactroban salep ( sejenisnya)
2. Pelaksanaan
A. Membersihkan kateter
- Observasi KU pasien dan TTV
- Berikan posisi tidur yang nyaman
- Jelaskan kepada pasien tindakan yang akan dilakukan
- Dekatkan tempat sampah injak kearah pasien
- Pakai apron dan masker
- Perawat mencuci tangan
- Buka verband penutup (balutan) kateter dengan kasa alkohol secara
perlahan, perhatikan posisi kateter: apakah tertekuk, apakah letak
posisi berubah dan keadaan exite site
- Dekatkan meja alat ke dekat pasien
- Perawat sementara pakai sarung tangan steril 1 buah, 1 tangan lagi
untuk memegang dan menuangkan larutan kedalam kom steril
- Bersihkan daerah exite site dengan kasa bethadin dan NaCL hingga
bersih kemudian bersihkan kulit mulai dari pangkal exite site
melingkar (dari dalam keluar) jika masih kotor diulang dengan yang
baru
- Bersihkan kateter mulai pangkal exite site sampai pangkal kateter
- Terakhir beri bactroban salep pada pangkal exite site
- Tutup exite site dengan kasa steril baru dengan hypavix
- Perawat mengganti sarung tangan (sepasang)
- Pasang duk steril di area kateter
B. Melakukan test kelancaran kateter
- Gunakan spuit 3 cc, lalu tambahkan heparin dan bekuan darah yang
berada di lumen kateter di aspirasi dan di buang ke tempat sampah
infeksius
- Bilas dengan larutan NaCL 0.9% secukupnya, lakukan test dengan cara
aspirasi dan masukkan kembali darah sambil rasakan lancar tidaknya
aliran darah (tindakan ini dapat diulang sampai yakin betul bahwa
aliran darah sudah lancer)
- Pengetesan ini dilakukan satu persatu (selang arteri atau vena
dahulu)
- Tutup selang kateter dengan kasa steril (posisi kateter dalam
keadaan terklem)
- Tentukan posisi kateter dengan tepat untuk menghindari kemacetan
pada saat dialysis berlangsung, kemudian fiksasi
- Kateter double lumen siap pakai
- Rendam tutup kateter dengan bethadin encer dalam kom steril
- Rapikan alat-alat yang sudah di pakai
- Perawat cuci tangan
- Kembalikan alat yang telah digunakan ketempat semula
C. Menyambungkan ke selang dialysis
- Kecilkan Qb sampai dengan 100ml/menit, kemudian matikan
- Lepas selang arteri dari sambungan sirkulasi tertutup
- Selang infus dalam posisi terklem
- Sambungkan selang darah arteri dengan selang arteri kateter, gunakan
kasa steril sebagai alas untuk menyambung
- Kencangkan konektor penghubung, bukalah klem selang darah dan klem
kateter, lalu hidupkan pompa darah mulai dari kecepatan 100ml/menit
lalu naikkan secara bertahap sesuai dengan tekanan darah dan keluhan
pasien
- Lakukan pemograman mesin sesuai dengan kebutuhan (sesuai preskripsi
HD)
- Kembalikan alat-alat yang sudah dipakai dan rapikan
- Perawat mencuci tangan
- Catat semua kegiatan dalam status pasien/catatn HD
- Observasi TTV dan keluhan pasien selama proses dialysis berlangsung
3. Hal-hal yang perlu diperhatikan
- Kesterilan alat instrument
- Prosedur kerja dengan tekhnik aseptic
- Pemberian dosis heparin pekat sesuai dengan ukuran yang tertera pada
selang kateter double lumen

Silahkan Tunggu....
Singapore Linkid-slnFree Smart Automatic BacklinkMalaysia Free Backlink ServicesMAJLIS LINK: Do Follow BacklinkLink Portal Teks TVAutoBacklinkGratisjapanese instant free backlinkFree Plugboard Link Banner ButtonFree Automatic Backlink Service
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
backlink
DMCA.com
Design by Free Software Download | Bloggerized by Blacklist Blcklist